cerita ini di diskriposikan tentang seorang hamba yang sabar penuh cobaan, hidupnya selalu jauh dari keluarga
Sabtu, 05 Agustus 2017
Al-Mutanabbi
[Syair Dinasti Abbasiyah] Al-Mutanabbi "Jangan Kau Beli Budak" | المتنبي "لا تشتر العبد"
لَا تَشْتَرِ العَبْدَ إِلاَّ وَ العَصَا مَعَهُ!!
Jangan Engkau Membeli Budak Kecuali Tongkat Bersamamu!!
(Diterjemahkan langsung dari buku :
نصوص أدبية مختارة للدكتور خليل الرفوع
Naskah-Naskah Sastra Pilihan oleh Dr. Khalil Ar-Rafu')
Al-Mutanabbi adalah penyair terkenal yang hidup pada masa Dinasti Abbasiyah. Diriwayatkan bahwasanya dia melantunkan syair ini ketika dia berada dalam perantauannya di Negeri Mesir untuk mencari harta, yang mana kemudian dia tinggal di lingkungan Kerajaan Mesir yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Kaafuur. Kaafuur sebelumnya adalah seorang budak hitam yang kemudian melakukan revolusi terhadap Kerajaan Mesir yang kemudian menobatkan dirinya sebagai Raja Mesir pada waktu itu. Perlakuannya yang kasar serta latar belakangnya yang pernah menjadi budak yang membuat rakyatnya banyak yang membencinya ketika dia menjadi raja. Pada masa itu Al-Mutanabbi menjadi penyair kerajaan yang dipimpin oleh Kaafuur tersebut. Sampai suatu hari Al-Mutanabbi secara sengaja melantukan syair yang berisikan penghinaan terhadap Kaafuur Raja Mesir saat itu. Mengetahui hal ini telah tersebar seantero Kerajaan Mesir maka Al-Mutanabbi pun segera melarikan diri dari Negeri Mesir takut dari hukuman pembunuhan atas dirinya. Setelah Kaafuur mengetahui tentang perbuatan penyair Al-Mutanabbi ini dia mengerahkan para pesuruhnya untuk mencari Al-Mutanabbi dan membunuhnya. Al-Mutanabbi kabur menuju Kuufah Iraq kampung halamannya, lalu kemudian ia meninggal terbunuh di perjalanan ketika sudah mendekati perbatasan Kuufah Iraq.
عِيْدٌ بِأَيَّةِ حَالٍ عُدْتَ يَا عِيْدُ بِمَا مَضَى أَمْ بِأَمْرٍ فِيْكَ تَجْدِيْدُ
Hari raya, dalam kondisi apapun engkau tetap akan datang wahai hari raya..
Engkau datang dengan sesuatu yang lama atau dengan membawa sesuatu yang baru?
**Diriwayatkan bahwa penyair melantukan syair ini bertepatan dengan hari raya. Pada bait ini penyair seakan-akan berbicara dengan hari raya, itu dikarenakan kerinduannya yang sudah memuncak akan keluarga dan kampung halamannya, akan tetapi Kaafuur melarang dia keluar dari Mesir.**
أَمَّا الأَحِبَّةُ فَالبَيْدَاءُ دُوْنَهُمُ فَلَيْتَ دُوْنَكَ بِيْداً دُوْنَهَا بِيْدُ
Adapun kekasih maka dia tetap berada di padang pasir tempat tinggalnya..
Andai saja ada padang pasir lain selain padang pasir itu..
لَوْلَا العُلَى لَمْ تَجُبْ بِيْ مَا أَجُوْبُ بِهَا وَجْنَاءُ حَرْفٌ وَ لَا جَرْدَاءُ قَيْدُوْدُ
Kalau bukan karena harta aku tidak bergerak sampai sejauh ini..
Serta (kalau bukan karena) unta yang kuat tidak pendek dan berleher panjang..
وَ كَانَ أَطْيَبَ مِنْ سَيْفِيْ مُعَانَقَةً أَشْبَاهُ رَوْنَقِهِ الغِيْدُ الأَمَالِيْدُ
Sungguh ada sesuatu yang lebih indah daripada pedang yang aku hunus ini..
Yaitu perempuan-perempuan cantik dengan pipinya yang putih merona..
لَمْ يَتْرُكِ الدَّهْرُ مِنْ قَلْبِيْ وَ لَا كَبِدِيْ شَيْئاً تُتَيِّمُهُ عَيْنٌ وَ لَا جِيْدُ
Namun tidak tersisa tempat di jantung hatiku ini..
Untuk sesuatu yang pada mata dan lehernya terdapat perhiasan (perempuan)..
يَا سَاقِيَيَّ أَخَمْرٌ فِيْ كُؤُوْسِكُمَا أَمْ فِيْ كُؤُوْسِكُمَا هَمٌّ وَ تَسْهِيْدُ؟
Wahai kedua khamr-ku! apakah terdapat khamr didalam kedua cawanmu?
Atau didalam kedua cawanmu malah terdapat kegelisahan yang mengganggu tidur?
**Khamr dapat diartikan sebagai minuman keras yang memabukkan peminumnya**
أَصَخْرَةٌ أَنَا، مَا لِيْ لَا تُحَرِّكُنِيْ هَذِيْ المُدَامُ وَ لَا هَذِيْ الأَغَارِيْدُ
Batukah aku ini?! tidak ada sesuatu yang dapat merubah aku..
Tidaklah khamr ini dan tidak juga lagu-lagu ini..
**Pada bait ini penyair mengedepankan kata "batu" daripada dirinya, maknanya adalah penyair mengatakan bahwa dirinya lebih keras daripada batu itu sendiri**
إِذَا أَرَدْتُ كُمَيْتَ اللَّوْنِ صَافِيَةً وَجَدْتُهَا وَ حَبِيْبُ النَّفْسِ مَفْقُوْدُ
Jika aku menginginkan khamr berwarna merah pekat..
Sungguh aku telah mendapatkannya akan tetapi aku akan kehilangan kekasihku..
مَاذَا لَقِيْتُ مِنَ الدُّنْ
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar